Menghitung Hari

Menikmati nyamannya hidup di Jepang tinggal menghitung hari. Berat rasanya meninggalkan Kobe yang memberikan begitu banyak kenangan.

10 bulan berada di negeri Sakura memang rasanya seperti mimpi. Tidak pernah dulu terbayang saya punya paspor atau bahkan terbang jauh terpisah dari keluarga selama ini. Jujur selama 20 tahun, baru kali ini saya menikmati “kebebasan”, atau bahasa lainnya adalah hidup mandiri.

Pengalaman yang luar biasa. Masak sendiri, tanggung jawab sendiri, sahur-puasa-lebaran sendiri, bahkan sakit pun juga sendiri (ini pengalaman paling miris sih). Paling kerasa “sendiri” itu memang pada saat sakit. Lumayan banyak yang ga percaya kalo saya ngurus diri sendiri pada saat itu. Kena cacar, sebuah penyakit yang belum pernah saya idap di Indonesia. Kok ya di Jepang banget gitu kenanya, haha.

Saya ingat banget kena cacar air pada minggu puncak musim dingin di Kobe di pertengahan bulan Februari 2014.

IMG_0970

 

nah macem gini lah puncak musim dingin di Kobe

 

Pada pagi hari, saya bingung kok di leher ada muncul bintil yang kelihatannya isinya air. Langsung pada saat itu juga pikiran melayang-layang kalo ini positif cacar. Meskipun pada saat itu belum muncul demamnya, udah heboh lah nanya temen-temen dokter di Kobe (berasa punya dokter pribadi). Sengaja nunggu satu hari. Esok harinya, demam muncul, dan beberapa bintil muncul lagi. -_-“

Demam, bermasker, berjaket tebal lapis tiga, singkat cerita saya pergi ke klinik kampus, dirujuk ke spesialis, positif kena cacar air, akhirnya diisolasi di kamar selama seminggu.

Setelah nebus antivirus, saya menyempatkan diri belanja makanan untuk seminggu, karena katanya gak boleh kemana-mana selama itu. Kerjaan selama seminggu itu cuma baring di tempat tidur, bangun untuk masak, makan, tidur lagi. Bahasa diisolasi gak berlebihan sih, soalnya memang supervisor dorm sampe datengin kamar buat bilang kalo saya dilarang keluar kamar untuk ketemu orang-orang.

Masak sendiri, mau makan kerongkongan sakit, mau mandi pelan-pelan banget supaya bintilnya ga pecah, mau tidur susah banget karena sakit, pokoknya horrible banget lah.

Pada saat itu aja langsung kepengen balik ke rumah.

 

Kembali ke niat awal, saya menulis ini sebagai surat perpisahan dengan Kobe. Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke sini. 

Kobe itu kota yang senang bersolek. Kobe itu penduduknya kebanyakan orang tua. Kobe itu kota pelabuhan, sehingga banyak orang luar negeri yang tinggal dan menetap. Penduduk asli tidak asing melihat orang yang berbeda SARA. Kobe merupakan tempat yang nyaman ditinggali, kota besar, namun tidak sebesar Osaka ataupun Tokyo. 

Kobe bukan tepung. Kobe merupakan ibukota prefektur Hyogo. Biaya hidup di Kobe mahal, harga-harga mungkin hampir sama seperti di Osaka atau Tokyo. Kobe merupakan tempat dibangunnya mesjid pertama di Jepang, letaknya di Kitano, dimana kebanyakan memang orang India-Pakistan yang menetap disana. 

Saya dulu agak berat dapat lokasi pertukaran pelajarnya di Kobe. Tapi setelah beberapa bulan disini, justru saya jatuh cinta. Selama 10 bulan disini, saya merasa homesick cuma satu kali, pada saat sakit itu. Sisanya live the life to the fullest! 

IMG_8847

Kobe Port Tower + Meriken Park

IMG_8882

Sannomiya

IMG_9030

Kobe Luminarie 2013

IMG_1968

Sakura Tunnel right behind my dorm

Saya pasti akan kembali ke Jepang jika ada kesempatan suatu saat nanti. Terima kasih. 

 

Advertisements

Menghargai ketidaksempurnaan

Assalammu’alaikum wr.wb

 

Selama sekitar 6 bulan berada di Kobe, bukan pelajaran akademis lah yang lebih banyak saya dapatkan, melainkan pelajaran hidup. Suatu yang tidak bisa dibahas dan ada teorinya di dalam kelas. Hanya dengan terjun ke dalam kehidupan itulah saya belajar untuk bertahan. 

Kali ini, saya ingin berbagi mengenai sisi lain pelajaran hidup. Kemarin, hari minggu, tanggal 23 Maret 2014, saya bersama rombongan angklung dan tari rantak PPI Kobe berkesempatan untuk menampilkan aktifitas keseniannya di Shiawase no Mura (lit: Happy village). Kami berenam berangkat dari Sannomiya dengan naik bus no.66 hingga pemberhentian terakhir. Saya cukup terkejut melihat ada kompleks bermain yang sangat besar di sisi Kobe yang lebih dalam. Disana ada lapangan (sepakbola, tenis, golf, dan lain-lain yang butuh tanah yang sangat luas), arena berkuda, kolam renang indoor, bahkan onsen. Ya, bisa dibayangkan sendiri betapa luasnya fasilitas ini.

Namun bukan hal itu yang menjadi perhatian saya. Ketika masih berada di Sannomiya, saya melihat rute pemberhentian bis ini, salah satu yang berada di dalam kompleks Shiawase no Mura ada kata byouin (tl: rumah sakit). Pada awalnya saya kira ya memang rumah sakit biasa, orang-orang sakit, kemudian dirawat, diberi obat, kemudian sembuh, dan pulang ke rumah masing-masing. Begitu masuk ke dalam Shiawase no Mura, saya akhirnya mengerti. Mengerti mengapa pemerintah begitu dermawannya memberikan tanah yang sangat luas hanya untuk tempat bermain, mengerti mengapa ada rumah sakit di dalam taman. Rumah sakit yang dimaksud adalah rumah sakit rehabilitasi, untuk pasien-pasien berkebutuhan khusus. 

Pelajaran hidup tentang bersyukur.

Baru saja hari sabtu kemarin bahasan liqo kecil saya bersama teman-teman disini adalah mengenai syukur. Hari minggunya kami, terutama saya, langsung diberikan contoh nyata, bahwa syukur atas nikmat Allah SWT yang diberikan kepada saya tiada batas dan tidak dapat dihitung oleh alat hitung manapun. 

Di tempat itu tidak hanya kami orang Indonesia, tetapi dari berbagai negara yang turut serta memeriahkan acara ini. Pasien rumah sakit pertama yang saya lihat adalah seorang wanita Jepang yang sangat cantik, rambutnya dikepang dengan sangat apik, dia juga mengenakan makeup sehingga membuat wajahnya semakin indah. Dia duduk di kursi roda, tanpa kedua tangan dan satu kaki. Saat itu hati saya terjun bebas. Mengutuki diri sendiri yang masih suka mengeluh dengan kondisi badan dan wajah saya yang tidak sempurna, masih suka membandingkannya dengan perempuan-perempuan lain. Standar kesempurnaan seorang wanita yang ada dalam diri saya mendadak runtuh. Saya harus lebih bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah SWT, tangan dan kaki semua lengkap, tidak kurang suatu apa, sehingga saya masih bisa menulis untuk berbagi cerita ini. 

Berturut-turut selanjutnya adalah anak-anak. Ada yang berkebutuhan khusus, ada yang tidak. Ketika melihat anak-anak yang begitu lugunya mendatangi meja kami, meminta diajari untuk bermain angklung, lupa sudah saya tentang kebutuhan khusus mereka. Bahkan ketika saya dan tim rantak tampil menari untuk pertama kalinya, beberapa anak duduk dengan tenang di depan kami, tampak serius melihat kakak-kakak ini menari. 

Image

 

I really love their gaze

Penampilan tari rantak ada tiga kali, dimulai dari jam 1 siang. Dilanjut dengan penampilan angklung dengan membawakan lagi Yuki yang pastinya dikenal oleh anak-anak Jepang. 

Sungguh penampilan budaya yang sarat makna hidup. Saya tidak akan pernah melupakan hari itu. Meski dengan kondisi panggung yang seadanya, tapi batin saya puas. Tidak ada pelajaran hidup mengenai syukur yang lebih hebat dari ini sepanjang hidup saya selama ini. 

Image

 

Tim Tari Rantak dan Angklung PPI Kobe

Image

They’re so adorably cute

Image

Today’s performers

 

Photo credit: Zahar Angga.S

Fuyu Yasumi – 冬休み | Part 3 – end

Assalamu’alaikum wr.wb

 

Akhirnyaaa.. bisa lanjut untuk nulis lagi. Anw, selama seminggu kemaren ga bisa move on dari tempat tidur karena cacar. Yep, si penyakit zaman bocah itu, saya baru kena sekarang. Kenapa juga harus di Jepang pas saya lagi ga sama keluarga?? *masih ga terima kena cacar disini* . Soalnya saya ngurusin diri sendiri. Masak sendiri, nyuci sendiri, ngingetin diri sendiri, daaan semuanya serba sendiri. Intinya sih seminggu sakit rasanya udah kepengen balik aja ke Indonesia, minta diurusin. haha.

Well, perjalanan liburan tahun baru sekaligus musim dingin itu belum selesai. Masih ada beberapa trip lanjutan. Meskipun bukan trip inti, tetep, yang penting melangkahkan kaki ke tempat baru itu tujuan utama. 

Day 5 : 3 Januari 2014 – on the way to Nagoya

Kenapa saya tulis demikian? Karena emang seharian dipake buat jalan dari Tokyo ke Nagoya. Doang. 

Sebenernya jarak dari Tokyo ke Nagoya itu gak sejauh dari Kanazawa ke Tokyo yang makan waktu ampe 12 jam. Paling juga cuma enam jam. Sialnya, pada hari itu terjadi kebakaran hebat di sebuah tempat permainan yang tidak perlu saya sebut namanya “Pachinko”, hampir semua jadwal kereta di Tokyo terganggu. Maaaan, mending kalau delay nya 30 menitan atau apa, ini sampai “waktu yang tidak bisa ditentukan”, dan bahkan jadwal keberangkatan shinkansen batal. Soalnya si Pachinko itu gedungnya deket banget sama rel, dan otomatis ketika kebakaran besar terjadi, sistem operasi untuk sementara ditunda atau diberhentikan karena takut kabel listriknya tersulut api dan menyebabkan hal yang lebih tidak diinginkan.

Singkat cerita, udah lari-lari ngejar kereta jam sekian di pagi hari yang cerah, dengan bawaan belanja plus tas segambreng, dapet info keretanya delay terus kemudian berubah statusnya jadi cancelled, nunggu tanpa tujuan selama beberapa jam sampe tengah hari, dan akhirnya memutuskan untuk pergi dengan pindah line demi mencapai Nagoya tidak terlalu malam. Sejak hari itu, saya dendam kesumat sama tempat mainan itu. Wugh, keselnya ga terkira sih. Gara-gara itu jalur JR tersibuk di Tokyo, Yamanote Line, tidak dapat beroperasi dengan semestinya. Entah berapa kerugian material maupun immaterial dari kebakaran itu.

Kalo saya sih makan ati. *sambil nyeruput teh*

Sampe Nagoya malam hari. Kecewa berat karena ga sempet ngeksplor Nagoya. Karena tanggal itu sebenernya udah saya plan untuk jelajah secuil Nagoya. Karena tanggal 4 sudah rencana kembali ke Kobe. Apadaya karena kejadian-yang-tidak-perlu-disebutkan-namanya-itu acara saya batal. Sampe stasiun Nagoya pun dampaknya masih terasa, orang-orang beserta keluarga yang ingin kembali ke Tokyo terlantar di peron khusus shinkansen. Ya karena yang saya bilang tadi, jalur shinkansen adalah jalur yang paling terkena dampak.

Akhirnya malam itu saya habiskan dengan ngedumel kejadian tadi pagi. 

 

Day 6: 4 Januari 2014 – Nagoya + Mie 

Pagi-pagi udah langsung berangkat. Soalnya saya ada agenda lanjutan ingin ke prefektur Mie, mengunjungi kampung Ninja, klan Iga.

Sebelumnya sempet pengen masuk ke kastil Nagoya, tapi katanya di dalam sedang renovasi. Yasudah saya akhirnya berfoto dari luar saja.

Image

Nagoya castle from outside.  

Perjalanan menuju Iga-Ueno cukup lama. Kampung ninjanya benar-benar di pelosok banget. Bahkan sampe naek kereta membelah hutan belantara. Ditambah kereta yang hanya terdiri dari dua gerbong (plus kereta jadul parah). Lanjut naek kereta dua gerbong pun didesain dengan gambar khas ninja. 

Image

I really love a countryside scenery. 

Image

Taken from the train. I really love the calmness feeling.

 

Dan akhirnya setelah itu sampailah di stasiun Iga-Ueno. 

Image

 

The station’s platform and the train.

Satu kata sih : Niat. 

Meskipun di tempat terpencil gini, usaha untuk menarik wisatawan dilakukan. Ibaratnya kampung Ninja ini kayak satu desa di dalam Jawa aja gitu, tapi bikin kereta sampe sesuai dengan ciri khas yang menjadi daya tarik wisata nya, cukup bikin saya angkat topi. 

Klan Iga ini punya saingan, namanya klan Koka. Mereka deket-deketan, hanya beda prefektur saja. Kalau klan Iga ada di Mie, klan Koka ada di Shiga. Tapi untuk keberadaan ninja itu sendiri sekarang mungkin dipertanyakan masih ada atau nggaknya. Kalau zaman dahulu katanya memang benar-benar ada. Ninja dengan semua keahlian itu, hehe. 

Di Ninja Town-nya, ada beberapa penampilan dari orang yang sudah mahir *saya ragu mungkin dulunya pas masih muda mereka ninja, hehe*. Atraksi ninja nya benar-benar tercengang loh. Ternyata di dalam rumah tradisional Jepang, ada beberapa ruang rahasia yang biasa digunakan oleh ninja dalam melaksanakan misi. Contoh, ruangan rahasia, jadi dari luar terlihat seperti dinding biasa, tapi ternyata ada celah rahasia dan bisa muat untuk satu orang untuk melihat keluar tanpa disadari. Kemudian tangga rahasia, tempat katana rahasia di bawah lantai, dan lain-lainnya. 

Image

 

Basic weather forecasting for a Ninja.

Yak, kira-kira sekian cerita tentang Ninja. 

Satu hal yang tidak terlupakan dari main ke kota Ninja ini adalah akhirnya saya makan udang! Haha. Sore-sore kelaperan belum makan siang, ke satu-satunya restoran deket situ, dan satu-satunya menu yang tidak memasukkan daging hanyalah ebi tempura alias udang goreng. Walhasil, terpaksa makan. Laper, ga ada pilihan, mau ga mau, akhirnya makan. Hore!

Tapi sayangnya ga berlanjut lagi. Abis balik ke Kobe, masih ga bisa juga makan udang yang masih berbentuk. haha. 

Oke, cerita perjalanan saya selama hampir seminggu ini berakhir dengan sampainya saya di stasiun Rokkomichi tepat jam 20:28, empat menit menuju jam bis terakhir (yang kalo nggak dapet saya ga kuat nanjak dan lebih pilih naik taksi pas itu). 

Alhamdulillah saya telah diberi kesempatan untuk menikmata Jepang yang super ini. Bahkan saya 20 tahun hidup di Indonesia, pulang kampung sendiri aja masih belum dibolehin. Ini, ngiderin beberapa prefektur di pulau utama rasanya udah kayak bocah petualang banget. Ga sendiri sih, saya terus berganti-ganti teman perjalanan selama seminggu itu. Sangat menyenangkan. 

Sampai kamar, langsung ngisi bak mandi dan berendem ofuro saking pegel dan ngilu. 

Remuk redam gini-gini juga dibawa enjoy aja. Saya tahu risikonya, jadi ga nyesel juga udah pergi semingguan keliling Jepang cuma naik kereta biasa. 

I know the consequences very well and I don’t regret my choice at all. 

Image

 

cheers from Iga-Ueno. The Ninja Town.

Fuyu Yasumi – 冬休み | Part 2

Assalammu’alaikum wr wb.

 

Mau melanjutkan postingan yang sebelumnya. Masih tentang perjalanan saya yang menjajah beberapa tempat di Jepang, mumpung lagi disini dan ada waktu juga untuk pergi. 

Oh ya, untungnya pada saat ini saya udah beli kamera, jadi ngga perlu repot dan kebingungan untuk mengabadikan momen karena ga punya barang keramat itu. hehe. 

Sekarang lanjut ke hari yang berikutnya. 

Day 3 : 31 Desember 2013 – Tokyo

Oke, sekarang harus move on dari Shirakawa-go dan semua saljunya. Pagi-pagi berangkat dari stasiun Kanazawa menuju Tokyo. Berangkat jam 07.55 ! Super sekali~~~

Mengapa? Ya soalnya kalo ga berangkat pagi-pagi, sampe Tokyo bisa tengah malem. hehe. Ga percaya? Yah, mau gimana, Kenyataannya emang bisa 12 jam-an *evil grin*

Perjalanan cukup memakan banyak waktu karena saya lewat utara, nggak lewat selatan. Rute yang saya lewati untuk menuju Tokyo dari Kanazawa melalui prefektur Toyama dan Niigata (keduanya berbatasan dengan laut Jepang). Salah satu keuntungan menggunakan 18kippu itu adalah bisa menikmati pemandangan yang ada di luar. Betul-betul keren! 

Pada hari itu kebetulan cuaca sedang tidak bersahabat, mendung dan hujan cukup lebat. Ketika hujan lebat, area Hokuriku ini pun juga di landa salju. Angin dingin dari laut Jepang berhembus dan lautan juga cukup berombak tinggi. 

Image

          photo taken from inside the train. well, this beach is definitely not a desirable place for a trip :p

Setelah melalui sisi lautnya prefektur Niigata, kereta pun melaju dan bergerak semakin ke dalam, dimana lautnya sudah tidak terlihat lagi. Kemudian tidak berapa lama, saya disambut oleh deretan pegunungan cantik nan indah yang tertutup salju. 

Image

               some photos……………

Image

 

with snow everywhere I can see

 

Oke, jadi selama perjalanan ini saya mencerna banyak hal. Di Jepang, kota-kota besar cenderung lebih banyak apartemen (apato) ketimbang rumah sendiri. Alasannya ya tentu saja karena harga tanah yang menjulang. Kemudian, pabrik-pabrik industri besar juga adanya di pedesaan. Benar-benar di pelosok desa. Mungkin karena pabrik itu bangunan yang cenderung tidak bersih kayaknya. 

Image

 Ini merupakan pabrik ban Toyo Tires. Pada tau kan merk ban mobil itu. Nah, pabriknya ada di tengah desa gini.

 

Sebagai informasi, Japan Railway (JR) di pulau Honshu *pulau utama Jepang* memiliki tiga cabang pengoperasian utama. Pertama yakni JR West (untuk bagian Barat), kedua JR Central (untuk bagian tengah), dan Ketiga yakni JR East (untuk bagian Timur–dimana termasuk Tokyo).

Dan akhirnya, lepas dari prefektur Niigata, saya pindah ke prefektur Gunma! Kali ini saya pindah dari JR West ke JR East. Pukul 8 malam, akhirnya saya sampai di Shinjuku! Benar-benar 12 jam bukan? hehehe. Capek sih, tapi semuanya terbayar lunas deh pokoknya. 

Sesampainya di Tokyo, saya kemudian langsung cus ke Harajuku. Eits, tenang, bukan mau ikutan cosplay kok, tapi merayakan pergantian tahun sama warga Jepang lainnya di Kuil Meiji (Meiji Jingu). >.<

Image

 

Pintu masuk gerbang selatan Meiji Shrine yang paling deket sama stasiun Harajuku. 

Image

Drum-drum sake yang dijadiin lampion. Banyak. Banget.

Dan kemudiaannnnnnnnn akhirnya tahun baruan di antara lautan orang. Memang sudah tradisi di Jepang, biasanya pada malam tahun baru, tempat yang paling ramai dikunjungi masyarakat adalah Kuil (entah itu Tera atau Jinja, tapi biasanya sih Jinja sesuai dengan kepercayaan Shinto mereka. Kalau Tera untuk agama Buddha). Di pusat kota, seperti di pusat perbelanjaan dan lain-lain, justru tidak banyak terlihat kerumunan masyarakat. Kalau mereka tidak ke kuil, mungkin mereka merayakan pergantian tahun di rumah bersama keluarga. 

Satu hal yang saya kagumi dari masyarakat sini adalah betapa teraturnya mereka. Jangan kira disini tidak ada berbagai macam jajanan pasar. Beuh, setiap ada festival di Kuil, pasti ada stall-stall bazaar yang membuka dagangan. Orang yang datang pun tidak sedikit. Yang laper tengah malem kruyuk-kruyuk sambil ngantri masuk kuil pun juga banyak. Tapi sepanjang malam itu dan sepanjang pengamatan saya, tidak ada sampah berserakan dimana-mana. 

Ah, disitu banyak tempat sampah, makanya buangnya gampang. Jika itu yang ditanyakan, maka jawabannya nihil. Tidak ada tempat sampah di sisi kanan-kiri sepanjang jalan masuk kuil. Sisi jalanan disterilkan untuk akses polisi yang mengatur giliran untuk masuk ke dalam kuil. Jadi? Ya sudah pasti jawabannya sampah sisa makanan disimpan sendiri dulu, jika nemu tempat sampah barulah dibuang. Keren bukan.

 

Day 4 : 1-2 Januari 2014 – Tokyo

 

Rencananya sih saya hanya mau di Tokyo 1 Januari saja. Apadaya Tokyo terlalu menarik untuk tidak dieksplor lebih dalam, hehe. Akhirnya saya nambah satu hari di Tokyo hingga tanggal 2 Januari 2014. 

Tanggal 1 Januari pagi harinya, setelah tepar 12 jam di kereta dan tahun baruan di kuil lantas baru sampe rumah temen jam 4 pagi, saya langsung cus ke Odaiba. Ehey! 

Untuk mencapai Odaiba, saya pertama kalinya mencoba naik monorail! Keren? Keren banget. Di tengah perjalanan mikir, mimpi ketinggian gak ya kalo sistem transportasi di Indonesia sama kayak di Jepang? Bahkan sampai kampung-kampungnya di Jepang saja transportasinya ajib bin yahud banget. Keliatan banget diurusin dan ga ditelantarkan mentang-mentang bukan kota besar atau ibukota seperti Tokyo. 

Sesampainya di Odaiba, tujuan pertama adalah patung gundam setinggi beberapa meter itu. Kemudian ke replika patung Liberty. 

Sebelum kembali, naik kapal dari Odaiba dan melihat Rainbow bridge pada malam hari, lantas ke Asakusa dan Tokyo sky tree! What a day.

Image

Senja di Odaiba. Ini tempat shooting-nya Itazura na Kiss~Love in Tokyo. Akhirnya kesampean juga kesini.

 

Image

Rainbow bridge and those building stunningly beautiful.

Image

Here comes Asakusa! 

Tanggal 1 Januari malam pun, orang-orang masih pada banyak yang ke kuil untuk ngelempar duit 5 yen. Ada satu kepercayaan lagi dari masyarakat sini untuk melempar uang 5yen pada tahun baru. Ini orang-orang pada ngantri (lagi) untuk masuk ke kuil dan berdo’a abis ngelempar uang itu.

 2 Januari 2014

Setelah bangun agak siang, saya meluncur ke salah satu bangunan bersejarah di Tokyo, yakni stasiun Tokyo. Ampun banget deh sibuknya ini stasiun. Seperti tidak pernah berhenti untuk sekadar beristirahat. 

Stasiun Tokyo merupakan salah satu stasiun pertama dan tertua di JR Line ini. Bangunannya antik dan tidak jauh dari stasiun ini merupakan istana tempat tinggal kaisar. Pada tahun baru pun biasanya Kaisar keluar dari tempat tinggalnya untuk sekadar menyapa rakyatnya yang datang ke istana tersebut. 

Antriannya pada saat itu bukan main panjangnya, sampai keluar area istana kaisar. Masyarakat Jepang percaya bahwa Kaisar merupakan titisan dewa matahari dari kepercayaan Shinto. Oleh karena itu Kaisar tetap dihormati disini. Bahkan ulang tahun kaisar dijadikan libur nasional. Jadi otomatis setiap pergantian kaisar, maka kalender di Jepang juga berubah, disesuaikan dengan hari lahir kaisar yang baru. 

Image

 

Bangunan antik Stasiun Tokyo dikelilingi bangunan modern pencakar langit

 

Image

 

Shibuya 2 Januari 2014

Hari terakhir saya di Tokyo ditutup dengan perjalanan singkat saya ke Shibuya. Demi foto dengan patung Hachiko yang legendaris itu dan tentu saja berburu foto-foto original Arashi di Johnnys Shop *balik ke Harajuku lagi*

Melihat Shibuya yang sebegini penuh dengan orang, langsung bersyukur karena tinggal di Kobe. Ya meskipun Sannomiya banyak orang pada jam-jam sibuk, tapi ga begini amat juga. Padahal ini bukan jam sibuk~ kalo jam sibuk ga kebayang lebih parahnya lagi. hmm. 

 

Sepertinya sekian dulu cerita liburan musim dingin bagian keduanya. Ini sudah 80% dari keseluruhan cerita.

Tokyo memang suatu kota yang spesial dan sangat pantas jika dikatakan sebagai ibukota Jepang yang paling modern. Kalo lagi iseng, coba lihat jalur kereta JR yang ada di Tokyo. Langsung siwer saking belibet dan njelimetnya. Belum lagi ditambah subway dan monorailnya plus perusahaan kereta swasta lainnya. 

Karena saya cenderung orang yang tidak suka keramaian dan orang banyak, begitu di Tokyo selama dua hari, setiap berada di kerumunan orang banyak, entah itu mengantri ataupun menunggu lampu merah untuk menyeberang, kepala saya langsung nyut-nyutan pusing. 

Lahir dan besar di Jakarta yang juga ibukota negara, jam-jam sibuk banyak orang itu sudah makanan saya sehari-hari. Menyadari bahwa saya yang hanya jalan-jalan saja udah pusing, saya ga yakin kalo tinggal di Tokyo kayak apa. Ngga bisa bayangin. Jauh lebih daripada kerasnya Jakarta. 

Have a great day!

Image

 

salam cinta senja dari Odaiba! 

Fuyu Yasumi – 冬休み | Part I

Assalamu’alaikum wr.wb

Kali ini, setelah beberapa post yang sempat tertunda dan hanya kepikiran di kepala, akhirnya saya memutuskan untuk menulis beberapa patah kata, haha.  Syukur yang tidak terhingga dan masih belum percaya rasanya saya sudah hampir 5 bulan tinggal di negara matahari terbit ini. 

Berhubung kondisi Jepang yang 4 musim, ada saat dimana masuk musim dingin yang dimulai akhir desember hingga februari (atau maret). Memasuki musim dingin, tentu saja ada jadwal liburan *lagi*. Sepertinya hampir setiap pergantian musim diawali dengan liburan disini.

Musim semi ada liburnya (Haru-yasumi) yang sekaligus menandai pergantian tahun akademik baru yang akan dimulai pada bulan april, musim panas (natsu-yasumi), dan musim dingin (fuyu-yasumi).

Sayangnya musim gugur (aki) tidak ada liburan #ngarep

Bagi saya, ini semua serba pertama kali. Mulai dari pertama kali jauh dari rumah, pertama kali jadi anak kos dan tinggal sendiri, pertama kali ke luar negeri sekaligus naik pesawat, dan pertama kali merasakan pergantian empat musim yang luar biasa ini.  Saya sendiri paling suka musim gugur, entah kenapa suasananya syahdu dan lembut sekali, pergantian dari musim panas ke musim dingin, cuaca yang pas, terkecuali anginnya ya yang ga tahan kenceng pake banget, sampe melihat pemandangan sepeda-sepeda berguguran di tempat parkir yang sudah jadi pemandangan biasa pada saat musim gugur.

Kesempatan tahun ini tidak saya lewatkan untuk tidak menikmati salju. Sekadar info saja, salju yang turun di Kobe bisa dihitung dengan jari. Sama sekali tidak banyak. Jangan berharap untuk melihat salju sampe numpuk kalo tinggal di Kobe. 

Akhirnya, dengan beberapa teman dari Indonesia, saya cus pergi ke bagian Jepang yang lebih utara demi mengejar salju, haha. Tenang aja ga sampe Hokkaido kok. Dengan tiket ajaib 18kippu, pada saat liburan musim dingin (fuyu-yasumi), selama seminggu saya mengelilingi beberapa tempat di Jepang. 

 

Day1: 29 Desember 2013 – Kanazawa

Berangkat dari stasiun JR Rokkomichi. (re: JR = Japan Railway) Hampir aja terlambat karena kebiasaan ngaret -_-” untungnya masih sampe dan ngos-ngosan lari sambil gendong tas ransel dan satu tas besar lainnya. 

Berkat hyperdia semua jadi mudah disini. Tujuan pertama Kanazawa. Yang saya senang dengan naik 18kippu ini adalah saya berkesempatan untuk singgah atau sekadar lewat di beberapa prefektur. Petualangan saya dimulai dari Kobe yang berada di Prefektur Hyogo (Hyogo-ken)→Osaka-fu→Shiga-ken→Fukui-ken→Ishikawa-ken. Kanazawa merupakan ibukota prefektur Ishikawa yang berada di wilayah atau area Hokuriku (bagian pulau Honshu yang berbatasan langsung dengan Laut Jepang).

Wilayah Hokuriku itu sendiri terdiri dari beberapa prefektur yakni: Fukui, Ishikawa, Niigata, dan Toyama.  Dikarenakan sampai di Kanazawa sudah hampir sore akhirnya semua memutuskan untuk ke hotel. Karena saya anak yang tiba-tiba nyeruduk untuk ikutan biar ada temen, akhirnya saya terpaksa booking hotel satu kamar untuk satu orang. Untung kakak-kakak ini baiknya nggak ketulungan, sampe saya di booking in sekalian karena ngga punya kartu kredit. haha

Image

Ini landmark stasiun Kanazawa. 

 

 

Day 2 : 30 Desember 2013 – Shirakawa go

Tujuan utama diadakannya perjalanan ini ya mau ke tempat ini. Namanya shirakawa-go. Tempat yang diakui sebagai peninggalan budaya oleh UNESCO. Shirakawa-go sejatinya berada di Prefektur Gifu (Gifu-ken). Hanya saja lokasinya berdekatan dengan Kanazawa dan lebih mudah dijangkau dari situ ketimbang dari kota Gifu itu sendiri. 

Kami pergi ke Shirakawa-go menggunakan mobil van carteran karena ternyata bus tujuan kesana harus dipesan sehari sebelumnya dan sialnya pada saat itu kami kehabisan tiket. Untung sekali ada yang bisa berbahasa Jepang di antara teman-teman kami ini sehingga harganya bisa benar-benar turun dari yang tadinya 78,000 yen menjadi 50,000 yen dan sekaligus diantarkan ke beberapa tempat di Kanazawa sekaligus. Ternyata joki ga cuma ada di Indonesia, haha. Image

Ini taxi berbentuk van yang siap mengantar menuju Shirakawa-go.

Untuk mencapai Shirakawa-go, kami melewati prefektur Toyama pula. As expected, salju menumpuk dimana-mana. Di Kanazawa sendiri salju turun bercampur dengan hujan pada saat saya datang pertama kali. Dan makin mendekati Shirakawa-go, salju makin…………. ah, saking girangnya melihat salju saya sampai tidak bisa berkata apa-apa. 

Perjalanan menuju sana benar-benar breath-taking experience. Mengapa? Karena lokasi Shirakawa-go berada di dalam deretan pegunungan, beberapa kali mobil yang saya naiki masuk ke dalam terowongan yang membelah badan gunung. Panjang terowongannya tidak main-main, ada yang bisa sampai 5 km. Begitu keluar dari setiap terowongan, pemandangan yang disuguhkan sungguh tidak ada bandingannya.

Saya terasa terlempar ke dunia yang lain, asing, dan terlalu indah untuk diungkapkan.  Image

That’s it! Shirakawa-go!!  Kanji  白 = shiro = putih dan kanji 川= kawa = sungai. Literally artinya Sungai Putih, haha.

 

Beberapa jam ngider di Shirakawa-go, puas melihat salju yang serba putih itu. Pada saat itu cuaca Shirakawa-go sangat bersahabat. Salju turun tanpa angin. Jadi saya benar-benar puas menikmati salju. Kapan lagi ngeliat salju menumpuk sampe hampir setinggi badan ini, haha. Di Kobe ngga bakalan pernah terjadi salju macam ini. Image

Shirakawa-go dilihat dari atas. Rumah tradisional itu namanya Wada House. Kalau bulan Februari itu ada light up nya. Dan katanya sangat cantik. Karena saya datangnya bulan Desember, masih belum ada. Tapi ngeliat begini dari atas aja udah bikin sesek napas saking cantiknya. Suasana musim dingin bener-bener terasa dengan melihat kampung yang tertutup timbunan salju dan berada di lokasi yang dikelilingi gunung ini. 

Image

ya kira-kira segini lah tinggi salju nya. Bener-bener excited ketika melihat timbunan salju sebanyak ini.

Image

I thought I was in Europe or somewhere which was absolutely not in Japan.

 

Image

glad I went here. The snow which I have been longed for a long time. I’m glad to meet you.

 

Image

view from Wada House. From the top part of the house is the 3rd floor. You can see the whole village covered with snow. Really love this view.

 

 

Sekitar jam 2, kami kembali dari Shirakawa-go menuju Kanazawa. Rasanya berat sih, tapi ya mau gimana. *nasib* Di Kanazawa pertama kita ke little Kyoto nya. Rumah-rumah dan toko-toko berbangunan khas Jepang. Dahulunya memang tempat para geisha. Berasa kembali ke zaman Edo rasanya ketika berjalan di jalanan situ. 

Dan perjalanan terakhir di Kanazawa ditutup dengan pergi ke Kanazawa Castle dan Kenrokuen Garden.  Image

pintu gerbang Kenrokuen Castle

 

Image

 

narsis dikit deh. hehe

Ini baru sepertiga perjalanan saya selama liburan musim dingin. 

Saking banyaknya yang kepengen saya tulis tapi jari rasanya udah pegel dan keriting, makanya saya bagi jadi beberapa part.

Sekali lagi saya sangat bersyukur memutuskan dan memberanikan diri untuk berangkat ke Jepang. Kalau tidak, saya pasti akan menyesal seumur hidup.  Menginjak usia 20 tahun, dimana di Jepang sini ada perayaan tersendiri untuk mereka yang berulang tahun ke-20 *bahkan sampai libur nasional*, saya merasa diberikan begitu banyak kesempatan dan kenikmatan yang tidak terhingga. 

Di pergantian umur belasan menjadi kepala 2, rasanya berat. Berat karena menghitung mundur usia, berat karena tidak bisa dianggap sebagai anak kecil lagi. 

Tapi sebagai gantinya, ini merupakan kado terindah di pergantian umur ini. Kado yang hanya saya berani impikan, tidak pernah terpikir bahwa impian itu suatu saat menjadi kenyataan.

Suatu hal yang menantang sekaligus mendebarkan untuk mengawali babak kehidupan yang baru. 

 

Image

Salam dari Shirakawa-go!! 😀

hello again

yup, hello again.. since my last post in October, I have been quite busy with campus’ stuff. yea, japanese homework and so on. 

I would like to continue my writing again since I have a free time because………….. winter holiday is comiiinnng!!!

wait, winter?? if I say about winter, probably all of you will said “whoa, there will be so much snow falling, you must be very happy.” 

okay, let me explain that one. In my place where I stay, my beloved Kobe, I feel the winter. I feel the temperature is slowly decreasing and my body is freezing. But that’s all. snow? what you can expect from Kobe, haha. Only a few amount of snow will be falling and probably will not last for a whole day. just. a. little.

 

let’s move from the snow thing. 

 

I want to give updates some additional photos taken from many places in here. 

Oh yea, I’m proud I can perform a likok pulo dance with another fellow Indonesian friends. The dance we were performing is a part of an event held by Kobe University. I’m really happy that I can introduce our Indonesian folk dance to the world. 

Here is some pics taken in October, 26th 2013. 

Image

the performers

Image

an another……………… 

 

semua berawal dari mimpi

Judulnya kutulis demikian karena memang begitulah adanya. 

Semua berawal dari mimpi. Mimpi tidak akan dengan mudah dapat diraih karena hal itu nyaris di luar jangkauan. Mimpi tidak serta merta datang kepadamu membawa dirinya. Mimpi adalah satu hal yang terus membuat diri ini merasa hidup, merasa memiliki keinginan, merasakan pahit getirnya kegagalan, membelajari diri mengenai kehidupan. 

Akulah salah satu pemimpi itu. 

Benar-benar seorang pemimpi hingga aku berpikir orang lain pasti menganggapku tidak waras atau terlalu berekspektasi terhadap dunia yang manis dan baik ini. 

Ketika masuk kuliah pada 2010, aku benar-benar manusia yang kosong. Haus akan kekosongan itu membuatku meniatkan diri bahwa aku harus menjadi orang yang benar-benar berubah ketika kuliah. Sudah menuju kedewasaan. Apabila pikiranku masih terbawa dengan saat di SMA, maka aku menjadi orang yang gagal seutuhnya karena menyia-nyiakan masa mudaku. 

Semua berawal ketika aku jatuh cinta pada salah satu boyband papan atas negeri matahari terbit. Arashi. 

Sesuai dengan arti namanya yaitu “badai”, pada saat itu juga, aku memiliki mimpi yang membuat semua orang di rumah melongo keheranan, suatu saat aku harus pergi pertukaran pelajar ke Jepang. 

Aku memperjelas mimpiku, pertukaran pelajar ke Jepang. Mengapa? Karena jangka waktunya yang cukup lama yakni 1 tahun, dan aku ingin menjalaninya karena aku ingin ‘tidak biasa’ dari yang lainnya.

Pada waktu itu reaksi orang-orang terdekatku adalah, “kamu pasti kepengen ngeliat Arashi disana kan?”; “Ya kalo gitu mah niatnya udah ga bagus”

Memang aku akui itu salah satu pemicu yang membawaku memiliki mimpi seperti itu. Namun seiring berjalannya waktu, aku tidak lagi memiliki Arashi sebagai salah satu alasanku untuk pergi ke Jepang. Yang aku inginkan kemudian hanyalah bagaimana aku memperbaiki dan meningkatkan segala potensi yang ada dalam diriku hingga aku menjadi manusia yang memiliki keistimewaan dibandingkan lainnya. 

Mulailah aku bergerilya ke International Office yang ada di rektorat. Rata-rata program pertukaran pelajar ke Jepang selama satu tahun. Oleh karenanya, hanya dua periode lah aku bisa mendaftarkan diri. 

Pertama, pertukaran pelajar ke Tohoku. Pada saat itu aku masih takut untuk mendaftarkan diri, melihat IP ku yang biasa-biasa saja, sedangkan yang mendaftarkan diri banyak sekali, aku merasa minder. Alhasil karena keminderanku itu, justru sahabatku sendiri yang pergi ke sana. Jujur pada saat itu banyak hal yang berkecamuk di pikiranku. Tapi terima kasih karena hal itulah yang justru semakin menyadarkan diriku betapa pentingnya keberanian diri untuk mencoba sesuatu hal yang baru. 

Kita tidak akan pernah tau sesuatu jika kita tidak mencobanya.

Kedua, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS). Cukup aku bilang, dari 8 pelamar, yang diambil hanya satu orang. Dan beliau adalah orang dengan nilai TOEFL tertinggi diantara kita semua.

Ketiga, saking inginnya aku untuk pertukaran pelajar, akhirnya aku coba ke Korea Selatan yang hanya 6 bulan. Berbeda dengan Jepang, Universitas di Korea Selatan banyak sekali mengirimkan mahasiswanya ke sini dan begitu pun sebaliknya, sehingga ada beberapa Universitas yang saya coba yakni INHA dan SNU. INHA saya mendapatkannya karena hanya saya satu-satunya pelamar. 

Rasanya ada yang janggal. Sungguh. Dan saya tidak mendapatkan beasiswa sama sekali. Ini saya lepas karena saya benar-benar buta mengenai Korea dan saya tidak mau berspekulasi terkait dengan kehidupan saya selanjutnya disana. 

Keempat, sisa satu periode terakhir. Saya mencoba yang short term saja. Hanya pergi ke Jepang selama 2 minggu. Aplikasi saya pun kembali menemui kegagalan. 

Saya kembali mengevaluasi diri saya sendiri. Apa yang kurang dari saya dan apa yang salah dengan memiliki mimpi seperti ini? Saya tidak pernah berhenti berusaha dan berdo’a, melakukan segala sesuatu yang biasa dilakukan oleh setiap manusia jika memiliki keinginan, demi mendapatkan ridho Allah SWT. 

Pesimisme sempat menerpa ditengah jalan. Ditambah hal-hal yang tidak suportif yang diterima saya dari lingkaran pertama diri saya. Tapi itu justru akhirnya membuatku tersadar, nanti kita buktikan saja, aku bisa melampaui ekspektasi kalian. 

Ditambah, pada saat itu saya menerima pinangan menjadi petinggi salah satu badan eksekutif mahasiswa di kampus saya. Dari awal sudah saya katakan, saya masih memiliki mimpi itu. Akan tetapi, saya memutuskan untuk tidak lagi mengejar mimpi saya di satu periode kepengurusan ini.

Bulan Januari-Februari 2013 menjadi bulan yang penuh dengan aplikasi sana-sini, terutama ke Jepang. Membaca milis international Office membuat hati saya teriris ketika melihat banyak sekali universitas di Jepang yang menawarkan dirinya untuk kami masuki sebagai mahasiswa pertukaran pelajar. 

Namun aku sadar tanggung jawabku, sehingga aku sama sekali tidak mendaftar untuk universitas manapun. Aku berusaha seprofesional mungkin. 

22 April 2013. Tiba-tiba sebuah email dari Kantor Internasional menyapa hp-ku. Isinya, aku dinominasikan menjadi mahasiswa pertukaran pelajar ke Kobe University, Jepang. Aku terdiam. 

Disaat aku hampir menyerah, tidak mendaftarkan diri ke manapun, aku ditawari. Sekali lagi, ditawari. Aku tidak habis-habisnya berpikir bagaimana dunia ini berjalan dengan tangan Allah dan bagaimana satu sentuhan sedikit saja bisa membawa kebahagiaan yang luar biasa kepada hambanya. 

Bahkan aku tidak perlu melalui seleksi dari Kantor Internasional dan hanya perlu menyerahkan berkas yang diperlukan. 

Alhamdulillah. 

Kau tau, ini adalah kado terindah yang pernah aku rasakan. Kado terindah di awal kehidupanku yang menginjak 20 tahun di bulan Mei kemarin. Jadikanlah aku hambaMu yang tidak pernah berhenti bersyukur. 

Setelah melalui segala rintangan, mulai dengan tidak dapat beasiswa, hingga kemudian di detik terakhir akhirnya beasiswa Universitas turun juga, meskipun hanya setengah dari biasanya. Allah memiliki skenario sendiri dan terbaik bagi masing-masing hambanya. Yang perlu saya lakukan hanyalah menjalaninya dan mensyukuri setiap hal yang ada dan terjadi pada hidup saya. 

Untuk menambah uang saku kehidupan saya selama disini, saya harus kerja part-time (baito). Alhamdulillah, di bulan pertama kedatangan saya ke sini, saya langsung mendapatkan kerja tersebut. Allah memang selalu memberikan jalan bagi hambanya yang memang hanya mengharapkan ridha-nya. 

Bismillah, perjalananku di negeri impian mulai Oktober 2013 dilaksanakan. 

Image

Air mata tidak pernah berhenti ketika aku ada di pesawat. Antara tidak percaya, kagum, dan norak karena baru pertama kalinya naik pesawat dan sekalinya pergi langsung jauh dari Indonesia. 

Aku meminta maaf kepada teman-temanku di BEM UI 2013 karena tidak bisa membersamai kalian hingga akhir. Tapi terima kasih sudah mau datang ke bandara. Terima kasih karena perhatian dan bimbingannya selama ini yang tidak terhingga. Terima kasih mengajarkanku banyak hal yang tidak mungkin kusebutkan satu persatu. Bagian dari air mata yang kuteteskan juga untuk kalian. Aku selalu berdo’a dari sini untuk akhir yang baik di sisa kepengurusan ini yang tidak akan lama lagi berakhir. You’re the best! 🙂