Menghitung Hari

Menikmati nyamannya hidup di Jepang tinggal menghitung hari. Berat rasanya meninggalkan Kobe yang memberikan begitu banyak kenangan.

10 bulan berada di negeri Sakura memang rasanya seperti mimpi. Tidak pernah dulu terbayang saya punya paspor atau bahkan terbang jauh terpisah dari keluarga selama ini. Jujur selama 20 tahun, baru kali ini saya menikmati “kebebasan”, atau bahasa lainnya adalah hidup mandiri.

Pengalaman yang luar biasa. Masak sendiri, tanggung jawab sendiri, sahur-puasa-lebaran sendiri, bahkan sakit pun juga sendiri (ini pengalaman paling miris sih). Paling kerasa “sendiri” itu memang pada saat sakit. Lumayan banyak yang ga percaya kalo saya ngurus diri sendiri pada saat itu. Kena cacar, sebuah penyakit yang belum pernah saya idap di Indonesia. Kok ya di Jepang banget gitu kenanya, haha.

Saya ingat banget kena cacar air pada minggu puncak musim dingin di Kobe di pertengahan bulan Februari 2014.

IMG_0970

 

nah macem gini lah puncak musim dingin di Kobe

 

Pada pagi hari, saya bingung kok di leher ada muncul bintil yang kelihatannya isinya air. Langsung pada saat itu juga pikiran melayang-layang kalo ini positif cacar. Meskipun pada saat itu belum muncul demamnya, udah heboh lah nanya temen-temen dokter di Kobe (berasa punya dokter pribadi). Sengaja nunggu satu hari. Esok harinya, demam muncul, dan beberapa bintil muncul lagi. -_-“

Demam, bermasker, berjaket tebal lapis tiga, singkat cerita saya pergi ke klinik kampus, dirujuk ke spesialis, positif kena cacar air, akhirnya diisolasi di kamar selama seminggu.

Setelah nebus antivirus, saya menyempatkan diri belanja makanan untuk seminggu, karena katanya gak boleh kemana-mana selama itu. Kerjaan selama seminggu itu cuma baring di tempat tidur, bangun untuk masak, makan, tidur lagi. Bahasa diisolasi gak berlebihan sih, soalnya memang supervisor dorm sampe datengin kamar buat bilang kalo saya dilarang keluar kamar untuk ketemu orang-orang.

Masak sendiri, mau makan kerongkongan sakit, mau mandi pelan-pelan banget supaya bintilnya ga pecah, mau tidur susah banget karena sakit, pokoknya horrible banget lah.

Pada saat itu aja langsung kepengen balik ke rumah.

 

Kembali ke niat awal, saya menulis ini sebagai surat perpisahan dengan Kobe. Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke sini. 

Kobe itu kota yang senang bersolek. Kobe itu penduduknya kebanyakan orang tua. Kobe itu kota pelabuhan, sehingga banyak orang luar negeri yang tinggal dan menetap. Penduduk asli tidak asing melihat orang yang berbeda SARA. Kobe merupakan tempat yang nyaman ditinggali, kota besar, namun tidak sebesar Osaka ataupun Tokyo. 

Kobe bukan tepung. Kobe merupakan ibukota prefektur Hyogo. Biaya hidup di Kobe mahal, harga-harga mungkin hampir sama seperti di Osaka atau Tokyo. Kobe merupakan tempat dibangunnya mesjid pertama di Jepang, letaknya di Kitano, dimana kebanyakan memang orang India-Pakistan yang menetap disana. 

Saya dulu agak berat dapat lokasi pertukaran pelajarnya di Kobe. Tapi setelah beberapa bulan disini, justru saya jatuh cinta. Selama 10 bulan disini, saya merasa homesick cuma satu kali, pada saat sakit itu. Sisanya live the life to the fullest! 

IMG_8847

Kobe Port Tower + Meriken Park

IMG_8882

Sannomiya

IMG_9030

Kobe Luminarie 2013

IMG_1968

Sakura Tunnel right behind my dorm

Saya pasti akan kembali ke Jepang jika ada kesempatan suatu saat nanti. Terima kasih. 

 

Advertisements

One thought on “Menghitung Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s